SEJARAH BAKALAN
Refleksi Historis Kepulauan Bakalan
ASAL USUL BAKALAN

Pada
masa dahulu 1500 sebelum kerajaan Banggai. Pulau Bakalan dibahagi menjadi tiga
bagain. 1/3 bahagian dikuasai oleh
Banggai, dari sebelah Tebeabul dinamakan akat puso sampai keberbatasan Tembang dan Kaupatauk .
1/3 Bahagiannya lagi dikuasai oleh ponding-ponding, mulai dari kau patauk
sampai ke-Malanggong atau yang dikenal Panta Kapal. Kemudian yang 1/3nya lagi
dikuasai oleh peling atau Bulagi sebagai wilayahnya. Maka perbatasan akat puso
dan kampung tua atau bulungkobit sampai ke-wilayah Banggai.
PERKEMBANGAN SOSIAL KEMASYARAKATAN DESA BAKALAN.

Dalam
perkembangannya, sebahagian Masyarakat Desa Bakalan berasal dari kekeluargaan
mungkin ini adalah bagian dari lingkup sosial terkecil namun kental dalam hidup
kebersamaan, yang merupakan wujud kesatuan yang telah lahir dalam sebuah
subsistem sosial dalam bentuk realitas serta ketentuan yang ada, keberadaan
kelompok tersebut yang kemudian membentuk tatanan kehidupan, menciptakan
kelompok masyarakat dinamis, sehingga menghasilkan percampuran keturunan keluarga Sangadamo dan
Boloki lolono yang berasal dari peling sokunian (Monosan Bulagi) dan Peling Bunga (Balombong) pola kehidupan iteraksi sosial tersebut tercipta
sehingga benpindah-pindahnya tempat dari keturunan tersebut itu meliputi
wilayah, peling sokunion dan peling bunga kemudian dari peling bunga berpindah
ke sifit, sifit adalah suatu tempat yang terletak di atas desa Kautu sekarang
ini, dimasa itu sifit adalah bagian dari wilayah Ponding-ponding dari sifit
kemudian masuk ke-wilayah Kepulauan Bakalan dan menempati tempat pembagian, dan
untuk ponding-ponding yaitu 1/3 dari luas Pulau
Bakalan. Mereka terdiri dari Enam rumah tangga yakni Boidendeng, Tou,
Soni, Solinding, Sulil dan Damang mereka
menempati wilayah Malanggong, wilayah tersebut adalah merupakan wilayah Bakalan
saat ini. Disanalah mereka untuk bertahan hidup, mencari nafkah untuk kehidupan
baik tani maupun nelayan, hasil-hasil tersebut mereka jual pasar adapun
sebahagian hasil mereka, dilakukan dengan Barter tukar bibit kelapa di Labotan
Ponding-ponding, walaupun jarak tempu dari Malanggong ± 1 jam dengan
menggunakan duangan kadut ( Perahu layar).
Dalam
perkembangan keluarga tesebut terbentuklah Kelompok Masyarakat yang menempati
wilayah itu, seiring dalam perkembangan
Masyarakat Malanggong mereka berpencar mulai dari batu ampa-ampakon sampai
ke-talas.
AGAMA dan KEPERCAYAAN YANG DI ANUT.

DASAR KEPEMERINTAHAN
Pada
masa Pemerintahan Raja Tomundo Abdul Adjiz pada tahun ±1890 (Tomundo Banggai)
mengutus seorang Kapitan yang bernama Kapitan TIE untuk menyatukan Masyarakat
yang berjauhan titah tersebut bagi kapitan tie adalah sebuah amanat tentunya ia
harus lakukan untuk menyatukan wilayah-wilayah Masyarakat yang terpencar kala
itu, upaya yang dilakukan Kapitan Tie tersebut berhasil dilakukan. Dalam upaya
keberhasilan itu terjadilah
Konsensus/kesepakatan bersama di Kaupatau sebagai bentuk kesatuan masyarakat
yang terpencar, sekarang ini dirubah menjadi Desa Bakalan. Berkembangnya penduduk bakalan dari
tahun-ketahun menjadikan terbentuknya wilayah baru yaitu Desa Bulungkobit yang
berada disebelah barat Desa Bakalan saat itu pula wilayah Bulungkibit juga
mengalami sebuah perkembangan masyarakat dan kependuduknya. Maka kala itu pula, terbentuklah wilayah/desa yang
bernama Desa Lieke (Bungin), sehingga pada saat itu Pulau Bakalan menjadi tiga
Desa dengan pemerintahnya masing-masing.
Mencermati
perkembangan penduduk di Pulau Bakalan yang semakin lama semakin berkembang
maka pada tahun 1900 Tomundo Raja Banggai Abdul Adjiz berinisitif mendirikan
suatu pemerintahan/Distrik di pulau Bakalan dengan nama Distrik Bakalan
berkedudukan di Ibu Kota Bakalan atau dengan sebutan Ibu negeri di Bakalan.
Yang Dikepalai oleh Kepala Distrik, maka
hal ini secara langsung status Kepala Desa/Kapitan Tie dari Kepala Desa menjadi Kepala Distrik
Di
saat perubahan status Kepala Desa/Kapitan Tie menjadi Kepala Distrik tentunya memberikan
efek positif bagi Masyarakat Banggai, dimana pulau bakalan adalah wilayah
pemerintah dikala itu atau wilayah pemerintahan kecamatan saat ini, pada masa
itu berdatangan orang-orang dari berbagai penjuru Banggai dari
malike/pangkalasean Bulagi dan Bahkan dari negeri china untuk berdagang di
Pulau Bakalan, sehingga Pulau Bakalan pada saat itu di Juluki Pulau.
Namun payung
Pemerintahan kerajaan dikala itu Secara De Jure kerajaan
Banggai berakhir pada tahun 1952 dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No.
33 tahun 1952, tanggal 12 Agustus 1952 Tentang Penghapusan Daerah Otonom
Federasi Kerajaan Banggai. dan kini akhirnya
Bakalan adalah Desa yang berada di Wilayah Kecamatan Tinangkung. Kabupaten
Banggai Kepulauan.
Sejarah
sangat berarti dan bahkan bermakna jika sejarah itu kita jadikan spirit dan
motifasi dalam membangun daerah.
PETA KOGNISI WILAYAH KEPULAUAN BAKALAN
Ujung timur Sulawesi ini terdapat suatu wilayah
kepualauan yang kecil dikelilingi oleh gugusan pantai dengan luas wilayah ± 21
KM2 Yaitu kepulauan Bakalan. Kepulauan Bakalan ini meliputi tiga
wilayah administratif Pemerintahan yakni Desa Bakalan, Bulungkobit dan Bungin. Ketiga
wilayah tersebut disingkat menajadi 3b yaitu Bakalan, Bulungkobit dan Bungin.

Dilihat dari bentang fisik wilayah Pulau Bakalan atau kondisi alam (natural conture), bentang lahan
dan karaktristik lingkungan diwilayah ini,
memiliki corak yang khas. melimpahkan warisan alam yang hingga kini masih bisa dinikmati, Selain warisan alam, diPulau Bakalan juga memiliki warisan sejarah
yang mengagumkan. Menurut fakta-fakta sejarah Bakalan era silam sebagaimana
yang telah diuraiakan dalam refleksi
sejarah Kepulauan Bakalan era silam. Secara umum bahwa Masyarakat Pulau Bakalan
hidup disektor tani dan nelayan ada
juga yang ngkap tani sekaligus nelayan, akan tetapi masyarakat diwilayah ini
sangat bergantung pada sumber komoditas Kelapa sebagai komoditas unggulan, Komoditas tanaman perkebunan adalah merupakan
tanaman perdagangan yang cukup baik bagi masyarakat 3B, Namun rupanya kondisi komoditi perkebunan
belum optimal. Karena produktivitasnya secara relative masih kecil sehingga
perlu intensifikasi dalam meningkatkan produksi masing-masing komoditi
perkebunan, apalagi komuditi kelapa dipulau bakalan harus diakui semenjak
keberadaan pulau ini ada yang diwariskan kepada generasi sekarang ini.
Bakalan akan menjadi Kecamatan tidak akan lama lagi, insya Allah...... tergantung perjuangan anak-anak bakalan..... dan itu adalah hal yang sangat mungkin untuk diwujudkan....... potensi yang ada sangat memadai, dan
BalasHapusInsya Allah Bro
Hapusitu kampungku.....
BalasHapusJALANJUTKAN AKANG....