Rabu, 22 Mei 2013

PROFIL BAKALAN



SEJARAH BAKALAN
Refleksi Historis Kepulauan Bakalan

ASAL USUL BAKALAN
Bakalan adalah suatu Desa, suatu wilayah yang berada diwilayah kabupaten Banggai Kepulauan Kecamatan Tinangkung Provinsi Sulawesi Tengah.Letak geografis wilayah tersebut 010  - 09’ 36” LS.  1230 - 17’26 BT. Sementara Luas Wilayah Kepulauan ± 21 KM2 
     
Pada masa dahulu 1500 sebelum kerajaan Banggai. Pulau Bakalan dibahagi menjadi tiga bagain.  1/3 bahagian dikuasai oleh Banggai, dari sebelah Tebeabul dinamakan akat puso  sampai keberbatasan Tembang dan Kaupatauk . 1/3 Bahagiannya lagi dikuasai oleh ponding-ponding, mulai dari kau patauk sampai ke-Malanggong atau yang dikenal Panta Kapal. Kemudian yang 1/3nya lagi dikuasai oleh peling atau Bulagi sebagai wilayahnya. Maka perbatasan akat puso dan kampung tua atau bulungkobit sampai ke-wilayah Banggai.

PERKEMBANGAN SOSIAL KEMASYARAKATAN DESA BAKALAN.
Kita ketahui bersama bahwa Masyarakat adalah suatu kumpulan manusia yang tinggal di suatu tempat dalam jangka waktu yang lama dan menghasilkan kebudayaan.
Dalam perkembangannya, sebahagian Masyarakat Desa Bakalan berasal dari kekeluargaan mungkin ini adalah bagian dari lingkup sosial terkecil namun kental dalam hidup kebersamaan, yang merupakan wujud kesatuan yang telah lahir dalam sebuah subsistem sosial dalam bentuk realitas serta ketentuan yang ada, keberadaan kelompok tersebut yang kemudian membentuk tatanan kehidupan, menciptakan kelompok masyarakat dinamis, sehingga menghasilkan  percampuran keturunan keluarga Sangadamo dan Boloki lolono yang berasal dari peling sokunian (Monosan Bulagi) dan Peling Bunga (Balombong) pola kehidupan iteraksi sosial tersebut tercipta sehingga benpindah-pindahnya tempat dari keturunan tersebut itu meliputi wilayah, peling sokunion dan peling bunga kemudian dari peling bunga berpindah ke sifit, sifit adalah suatu tempat yang terletak di atas desa Kautu sekarang ini, dimasa itu sifit adalah bagian dari wilayah Ponding-ponding dari sifit kemudian masuk ke-wilayah Kepulauan Bakalan dan menempati tempat pembagian, dan untuk ponding-ponding yaitu 1/3 dari luas Pulau  Bakalan. Mereka terdiri dari Enam rumah tangga yakni Boidendeng, Tou, Soni, Solinding, Sulil dan Damang  mereka menempati wilayah Malanggong, wilayah tersebut adalah merupakan wilayah Bakalan saat ini. Disanalah mereka untuk bertahan hidup, mencari nafkah untuk kehidupan baik tani maupun nelayan, hasil-hasil tersebut mereka jual pasar adapun sebahagian hasil mereka, dilakukan dengan Barter tukar bibit kelapa di Labotan Ponding-ponding, walaupun jarak tempu dari Malanggong ± 1 jam dengan menggunakan duangan kadut ( Perahu layar).
Dalam perkembangan keluarga tesebut terbentuklah Kelompok Masyarakat yang menempati wilayah itu,  seiring dalam perkembangan Masyarakat Malanggong mereka berpencar mulai dari batu ampa-ampakon sampai ke-talas.

AGAMA dan KEPERCAYAAN YANG DI ANUT.
Agama yang di anut mereka pada saat itu adalah agama Islam, namun belum menganut anjuran perintah Rasul hal itu dikarenakan belum ada Ulama yang menganjurkan tentang Kepercayaan islam pada mereka. Namun pada tahun ± 1580 M,  datang seorang Pangeran penyebar Islam dari Kerajaan kediri yang bernama ADI COKRO (mumbu doi jawa) atau sebutan orang Banggai dikala itu ADI SOKO untuk menyebarkan agama islam wilayah Banggai. Sehingga pada masa itu penyebaran agama islam pesat berkembang sampai saat ini.

DASAR KEPEMERINTAHAN
Pada masa Pemerintahan Raja Tomundo Abdul Adjiz pada tahun ±1890 (Tomundo Banggai) mengutus seorang Kapitan yang bernama Kapitan TIE untuk menyatukan Masyarakat yang berjauhan titah tersebut bagi kapitan tie adalah sebuah amanat tentunya ia harus lakukan untuk menyatukan wilayah-wilayah Masyarakat yang terpencar kala itu, upaya yang dilakukan Kapitan Tie tersebut berhasil dilakukan. Dalam upaya keberhasilan itu  terjadilah Konsensus/kesepakatan bersama di Kaupatau sebagai bentuk kesatuan masyarakat yang terpencar, sekarang ini dirubah menjadi Desa Bakalan.  Berkembangnya penduduk bakalan dari tahun-ketahun menjadikan terbentuknya wilayah baru yaitu Desa Bulungkobit yang berada disebelah barat Desa Bakalan saat itu pula wilayah Bulungkibit juga mengalami sebuah perkembangan masyarakat dan kependuduknya. Maka kala  itu pula, terbentuklah wilayah/desa yang bernama Desa Lieke (Bungin), sehingga pada saat itu Pulau Bakalan menjadi tiga Desa dengan pemerintahnya masing-masing.
Mencermati perkembangan penduduk di Pulau Bakalan yang semakin lama semakin berkembang maka pada tahun 1900 Tomundo Raja Banggai Abdul Adjiz berinisitif mendirikan suatu pemerintahan/Distrik di pulau Bakalan dengan nama Distrik Bakalan berkedudukan di Ibu Kota Bakalan atau dengan sebutan Ibu negeri di Bakalan. Yang Dikepalai oleh Kepala  Distrik, maka hal ini secara langsung status Kepala Desa/Kapitan Tie dari Kepala Desa  menjadi Kepala Distrik
Di saat perubahan status Kepala Desa/Kapitan Tie menjadi Kepala Distrik tentunya memberikan efek positif bagi Masyarakat Banggai, dimana pulau bakalan adalah wilayah pemerintah dikala itu atau wilayah pemerintahan kecamatan saat ini, pada masa itu berdatangan orang-orang dari berbagai penjuru Banggai dari malike/pangkalasean Bulagi dan Bahkan dari negeri china untuk berdagang di Pulau Bakalan, sehingga Pulau Bakalan pada saat itu di Juluki Pulau.
 Namun payung  Pemerintahan kerajaan dikala itu Secara De Jure kerajaan Banggai berakhir pada tahun 1952 dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 1952, tanggal 12 Agustus 1952 Tentang Penghapusan Daerah Otonom  Federasi Kerajaan Banggai. dan kini akhirnya Bakalan adalah Desa yang berada di Wilayah Kecamatan Tinangkung. Kabupaten Banggai Kepulauan.
Sejarah sangat berarti dan bahkan bermakna jika sejarah itu kita jadikan spirit dan motifasi dalam membangun daerah. 

PETA KOGNISI WILAYAH KEPULAUAN BAKALAN
Ujung timur Sulawesi ini terdapat suatu wilayah kepualauan yang kecil dikelilingi oleh gugusan pantai dengan luas wilayah ± 21 KM2 Yaitu kepulauan Bakalan. Kepulauan Bakalan ini meliputi tiga wilayah administratif Pemerintahan yakni Desa Bakalan, Bulungkobit dan Bungin. Ketiga wilayah tersebut disingkat menajadi 3b yaitu Bakalan, Bulungkobit dan Bungin.
OBJEK WISATAMungkin adalah sebuah anugerah tuhan yang telah ia berikan pada suatu wilayah yang menyimpan potensi baik potensi sumber daya Manusia Maupun potensi sumber daya alam, potensi yang dimiliki ini memberikan ruang-ruang masyarakat dalam meningkatkan perikehidupannya, Potensi sumber daya manusia di paulau bakalan sudah cukup banyak dan memadai, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Namun proporsi SDM yang ada dan tersedia di dipulau Bakalan masih berkisar pada kalangan terbatas. Dan Belum menjangkau seluruh masyarakat, Bakalan, Bulungkobit dan Bungin.
   Dilihat dari bentang fisik wilayah Pulau Bakalan atau kondisi alam (natural conture), bentang lahan dan karaktristik lingkungan diwilayah ini,  memiliki corak yang khas.  melimpahkan warisan alam yang hingga kini masih bisa dinikmati,   Selain warisan alam, diPulau Bakalan juga memiliki warisan sejarah yang mengagumkan. Menurut fakta-fakta sejarah Bakalan era silam sebagaimana yang  telah diuraiakan dalam refleksi sejarah Kepulauan Bakalan era silam. Secara umum bahwa Masyarakat Pulau Bakalan hidup disektor tani dan nelayan ada juga yang ngkap tani sekaligus nelayan, akan tetapi masyarakat diwilayah ini sangat bergantung pada sumber komoditas Kelapa sebagai komoditas unggulan, Komoditas tanaman perkebunan adalah merupakan tanaman perdagangan yang cukup baik bagi masyarakat 3B, Namun rupanya kondisi komoditi perkebunan belum optimal. Karena produktivitasnya secara relative masih kecil sehingga perlu intensifikasi dalam meningkatkan produksi masing-masing komoditi perkebunan, apalagi komuditi kelapa dipulau bakalan harus diakui semenjak keberadaan pulau ini ada yang diwariskan kepada generasi sekarang ini.



3 komentar:

  1. Bakalan akan menjadi Kecamatan tidak akan lama lagi, insya Allah...... tergantung perjuangan anak-anak bakalan..... dan itu adalah hal yang sangat mungkin untuk diwujudkan....... potensi yang ada sangat memadai, dan

    BalasHapus
  2. itu kampungku.....
    JALANJUTKAN AKANG....

    BalasHapus

PENGEMBANGAN PARIWISATA BANGGAI KEPULAUAN

PENGEMBANGAN PARIWISATA KABUPATEN BANGGAI KEPULAUAN Pengembangan kawasan wisata didefinisikan sebagai kawasan yang secara teknis...